Oooooh!
Jam wekerku baru saja bunyi. Aku meraihnya dan memencet tombol yang akan menghentikan bunyi yang membikin kuping jadi merah tapi efektif untuk membangunkan orang yang tidur nyenyak seperti aku. Ngomong-ngomong, siapa ya yang punya ide untuk menciptakan jam weker yang begitu menyebalkan dan berguna? Pasti orang seperti aku yang susah bangun sendiri tanpa bantuannya.
Yah, daripada ngelantur nggak karuan, lebih baik aku mandi saja. Kalau kesiangan bisa gawat.
Kuambil handuk biruku yang warnanya sudah tidak terlalu biru. Maklum, sudah tua handukku itu. Lagipula untuk apa punya handuk baru kalau handuk lama masih bisa dipakai. Lebih baik uangnya dipakai untuk membantu Bu Jum, janda tua yang manis, untuk membayar sekolah Walda, anaknya.
Wah, sial!
Di depan kamar mandi sudah ada Pak Barja yang mau mandi juga. Dan di dalam kamar mandi ada si Karyono, yang suara sumbang nyanyiannya terdengar sampai luar.
Aku senyum pada Pak Barja and duduk di sampingnya.
“Si Karyono udah lama di dalem, pak?”
“Wah, ndak tau ya? Saya baru sampe juga.”
“Oooooh!”
Pak Barja orangnya agak sombong. Baru-baru ini, anaknya baru membelikannya sebuah hape baru yang dibawanya kemana-mana. Hape itu bisa memainkan lagu, jadilah Pak Barja selalu mendengarkan lagu-lagu pop kesukaanya di manapun dia berada. Seperti sekarang ini. Lucu juga orang setua itu masih mendengarkan lagu-lagu dari Naff dan Andra and the Backbone. Kayaknya kok nggak pantes.
Aku mengambil sebatang rokok yang baru kuhisap beberapa kali tadi malam dan kunyalakan lagi.
Hmmmm…. Nikmatnya hidup ini…
***
Aku mendorong gerobakku sambil mendendangkan lagu yang tadi malam kudengar di radio Bu Jum. Aku tidak hapal syairnya jadi yah kukarang-karang saja deh.
Sampai di pabrik tempe, aku segera ke tempat pengambilan tempe harian. Mbak Judes (bukan nama aslinya, aku tidak tahu nama aslinya) sedang membagikan tempe-tempe pada beberapa penjual tempe keliling seperti aku.
Aku ikut antri di belakan Kang Marjo yang anaknya sedang di rumah sakit karena sakit demam berdarah.
“Gimana anakmu, Kang? Sudah pulang apa belum?”
“Wah… Belum boleh. Kemarin katanya dokter trombo… apa ya namanya… Pokoknya trombo trombo gitu… Nah, trombo-nya anakku masih rendah banget jadi masih harus dirawat.”
“Udah abis berapa, Kang?”
“Wah… Aku nggak tau. Kata susternya aku harus nanya ke bagian administrasi. Aku malu mau nanya bagian administrasi itu apa, jadi… besok ajalah kalo anakku udah sembuh. Tapi kemaren aku baru mbobok celengan. Ada dua ratus ribu… lumayan kan? Cukup kali ya?”
“Wah, saya nggak tau ya. Saya belum pernah masuk rumah sakit. Mudah-mudahan jangan sampe deh.”
Obrolan kami terputus karena Mbak Judes sedang membagikan tempe kepada Kang Marjo.
Kemudian si mbak yang judes itu membagikan tempe padaku. Seperti biasa dia melemparkannya padaku dan aku harus menangkapnya. Kalau tidak bisa menangkap tempe yang ia lemparkan yah aku yang rugi, karena tempe itu akan jadi utangku.
Setelah gerobakku penuh, aku pun mulai berjalan keluar dari komplek pabrik tempe.
Jalur yang biasa kulalui penuh dengan orang-orang yang berangkat kerja atau sekolah.
Aku jadi ingat saat aku berhenti sekolah. Waktu itu, ayahku baru mengetahui bahwa ternyata aku menggunakan obat-obatan terlarang. Beliau begitu terpukul. Anak laki-laki satu-satunya terlibat dengan obat-obatan terlarang. Suatu pukulan yang berat bagi seorang kapten polisi.
Apa kabarmu, Yah? Aku belum pernah melihatnya lagi sejak aku pergi dari rumah enam tahun lalu.
Yah… Sudahlah. Aku hanya ingin cari uang untuk makan, merokok, dan bayar uang kontrakanku di daerah kumuh itu.
Nah, itu Bu Ramah. Bu Ramah adalah salah seorang langgananku. Ia selalu bercerita mengenai suaminya yang sakit dan tidak bisa bekerja lagi sehingga ia harus mencari uang dengan cara menjual keripik tempe.
“Kok baru dating sih? Sudah saya tunggu dari tadi lho, bang!”
“Iya nih, bu! Saya agak telat sedikit.”
Aku tidak bilang padanya bahwa aku terlambat karena aku melamun sambil berjalan mendorong gerobakku.
Setelah Bu Ramah, langgananku selanjutnya adalah Bu Cerewet. Ia begitu cerewet. Satu kalimat yang keluar dari mulutku dijawab dengan sepuluh kalimat atau lebih olehnya. Ini contohnya…
“Mau beli berapa, bu?”
“Saya sih maunya beli satu saja. Habis harganya naik sih. Padahal anak saya ada empat. Habis gimana lagi? Apa-apa sekarang mahal. Tempe juga ikut-ikutan mahal. Mau beli daging, paling dapet seperempat kilo. Itu juga nanti jadi rebutan di rumah. Mending makan tempe aja. Si abang nggak jualan tahu juga sih… Saya padahal pengen beli tahu juga nih…”
Dan celotehannya terus memanjang sampai ke harga bbm, tarif bis, tarif listrik, sampai sayur tempe. Sudahlah…
Setelah Bu Cerewet, aku mendatangi beberapa langgananku. Setelah itu aku baru berkeliling tanpa arah untuk menghabiskan tempe-tempe yang kujual.
Saat aku lewat di depan sebuah warteg, aku melihat jam yang ada di dalamnya. Wah, sudah jam setengah dua belas. Aku sudah lapar. Maklum tadi pagi Cuma sarapan air putih dan nasi kering sisa semalam, tidak pakai lauh karena sudah kuhabiskan tadi malam.
Kurogoh saku celanaku, ada uang seribu lima ratus. Dapat apa ya?
Aku memberanikan diri masuk dalam warteg yang belum pernah kudatangi sebelumnya.
“Mas, mau makan langsung bayar apa mau utang dulu?”
Belum aku bicara, si ibu warteg sudah mendahuluiku dengan pertanyaan yang agak kasar.
“Soalnya tukang sayur yang biasa ngutang di sini udah nggak balik-balik dan dia masih utang lima puluh lebih.”
Apa hubungannya dengan aku? Tapi aku tau dia sedang kesal jadi aku menunjukkan uangku.
“Saya hanya punya segini. Dapet nasi nggak?”
“Wah, segitu sih, paling cuman nasi doang, setengah!”
“Ya, sudah bu. Nasi saja, setengah.”
Si ibu warteg pun membungkuskan nasi putih satu bungkus.
“Boleh minta garam, bu?”
Si ibu tampak agak bingung, tapi ia mengangguk.
“Dicampur nasinya juga boleh.”
Ia pun membubuhkan garam di pinggir nasi yang kemudian ia berikan padaku. Setelah membayar, akupun keluar dari warteg itu.
Aku mencari tempat yang kira-kira bisa kujadikan tempat peristirahatanku sekalian tempat makan siangku.
Nah, pohon rindang itu tampak sesuai. Di bawahnya ada beberapa tukang-tukang seperti aku sedang beristirahat dan makan siang. Aku bergabung dengan mereka.
“Misi, ya, bang!”
Mereka mengangguk sambil terus makan.
Aku mengambil tempat dan mulai membuka nasi bungkusku. Aku berusaha agar mereka tidak bisa melihat nasiku yang berlauk garam. Aku mulai makan. Perutku pun berterimakasih atas makanan yang akhirnya menyentuhnya.
Nikmat sekali nasi asin ini. Untung aku masih bisa makan. Uangku habis kemarin untuk bayar kontrakan jadi yah… Beginilah.
***
Oooooh….
Jam wekerku sudah berbunyi lagi. Sudah jam enam sore. Aku bangun dan bergegas mengambil handuk biruku. Ternyata di depan kamar mandi sudah ada Miranti. Kata tetangga-tetanggaku, Miranti ada hati padaku. Gadis itu cantik dan molek. Hanya saja… Aku sering lihat dia nongkrong di perempatan jalan Kosambi. Dan dandanannya saat nongkrong itu lho… Mungkin dia sering diajak kencan sama om-om yang sering mampir dengan mobil-mobil mewah.
“Halo, mas!”
“Eh, Miranti!”
“Mau mandi ya?”
“Iyalah, masa mau makan di kamar mandi?”
“Ah, mas ini! Jangan galak-galak dong.”
Aku duduk di semen di depan kamar mandi dan menyalakan sebatang rokok yang kutemukan di bawah ranjangku.
Miranti duduk di sampingku.
“Mau berangkat kerja ya, mas?”
“He’eh.”
“Kerjanya dimana sih, mas?”
“Kenapa? Mau ikut?”
“Kalau boleh sih mau.”
“Di tempat kerjaku nggak ada ceweknya!”
“Nggak papa kok.”
Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Pak Samsul.
“Wah, Maghrib-maghrib jangan berduaan. Nanti ada setan lewat bahaya.”
“Kebetulan saja kok, Pak.”
Setelah Pak Samsul pergi, Miranti tak kunjung masuk kamar mandi.
“Kamu jadi mandi nggak? Kalau kamu nggak mau, aku mau mandi duluan deh.”
“Kalau berdua mau nggak?”
“Wah… Kalau itu nggak bisa!”
“Kenapa?”
“Pokoknya nggak bisa.”
“Kenapa?” dia memaksa
“Karena…”
Sebelum aku selesai bicara, Miranti mendorongku masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
“Mir… Jangan main-main ah!”
“Aku nggak main-main kok. Mas kan tau aku sudah lama seneng sama kamu.”
Dia meraih kancing celana pendekku. Sebelum di berhasil membuka kancingnya, kudorong ia sehingga membentur tembok kamar mandi sempit ini dan aku keluar.
“Cewek sinting!” aku sempat berteriak sebelum balik ke rumah kontrakanku.
Akhirnya aku berangkat kerja tanpa mandi. Biarlah…
Sesampainya di pabrik kertas tempat aku bekerja, aku langsung absen di kantor keamanan. Aku jadi penjaga malam di pabrik ini. Uangnya lumayan buat beli rokok.
Kang Udin, orang mengajakku kerja di sini memperingatkanku tadi malam, ada banyak maling di daerah pabrik akhir-akhir ini.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 10, semua karyawan pabrik sudah pulang. Aku mulai berkeliling bersama Mas Budi dan Syahrul. Keadaan di sekitar pabrik aman-aman saja. Setelah selesai berkeliling kami duduk di pos sambil mengobrol.
Mas Budi baru mendapat seorang anak laki-laki dambaannya setelah lima tahun menikah dengan istrinya.
“Gimana, mas? Enak punya anak?” tanya Syahrul yang masih bujangan seperti aku.
“Yah, enak nggak enak lah. Abis aku musti puasa empat puluh hari nih.”
Aku tertawa tapi Syahrul yang polos tak mengerti maksud Mas Budi.
“Puasa? Memang kalau habis punya anak harus puasa sampai empat puluh hari? Lama banget!”
“Ah, kalo nggak tau jangan suka sok tau, Rul!”
“Gini lho, Rul! Kalo abis lahiran kan istrilu nggak boleh dikelonin dulu…”
“Lha nggak bisa dong kan dia ngelonin anaknya.”
Mas Budi dan aku tertawa terbahak-bahak. Syahrul memang sangat polos dan agak kurang pintar.
“Sudahlah, Rul! Kamu nanti malah pusing. Kita main gaplek aja yuk!”
“Boleh! Mana kartunya kemaren ya, Wan?”
“Kan kemaren aku taruh di laci meja. Coba kamu liat!”
Syahrul mencari di laci meja dan menemukannya.
“Nggak usah pake taruhan ya! Aku lagi nggak punya duit.”
“Aku juga! Abis duitku buat nebus anakku di rumah sakit minggu kemaren.”
“Ya udah. Kita maen polos aja.”
Jadi lah kita main gaplek polosan.
Tak terasa hari mulai menjelang pagi. Jam di dinding pos menunjukkan pukul 2. Waktunya aku pulang. Sekitar tiga jam lagi aku sudah harus bangun dan ke pasar untuk ngambil tempe untuk kujual.
Mas Budi dan Syahrul biasanya pulang jam 5.
Sambil berjalan pulang, aku menghitung uangku dari penjualan tempe hari sebelumnya. Lumayan, aku dapat sepuluh ribu. Aku belum makan tadi malam, jadi aku mampir ke warung nasi di ujung gang rumahku. Nita, si penjual yang manis, tersenyum saat aku masuk.
“Makan, mas Wawan?”
“Dibungkus aja, Nit!”
“Pake apa?”
“Hmmm… Tempe oreg dan kangkung aja deh.”
“Nggak bosen liat tempe terus?”
“Yah… Abis duitnya cukup buat beli tempe aja.”
Nita pun membungkuskan pesananku.
“Aku tambahi sayap ayam deh. Tapi jangan bilang emak ya!”
Aku tersenyum. Nita memang baik.
“Makasih ya, Nit!”
“Mas, kapan ajak aku jalan-jalan lagi?”
“Kapan ya? Nanti deh kalo udah ada uang lebih.”
“Kita ke Jakarta Per yuk!”
“Boleh!”
Nita pun tersenyum lagi saat aku berjalan keluar dari warungnya.
Perjalanan pulang terasa santai dan ringan. Sampai di rumah aku makan nasi yang baru kubeli. Aku menyisakan sedikit untuk besok kalau lapar.
Ah! Aku lupa beli rokok! Ya, sudahlah! Aku tidur saja. Siapa tahu aku akan mimpi merokok nanti.
***
Monday, June 23, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment